Bisnis Bengkel Sepeda Motor masih memiliki Potensi Pasar Besar

bisnis bengkel sepeda motor

Sejumlah kalangan yakin banyak peluang usaha pada 2013 atau tahun ular air, tidak terkecuali usaha skala kecil dan menengah. Salah satu jenis usaha kecil tersebut adalah bisnis bengkel sepeda motor.

bisnis bengkel sepeda motorBeberapa pelaku usaha ini mengatakan pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua ditanah air yang terus meningkat menjadi indikasi besarnya pangsa pasar. Memang berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motoer Indonesia rata-rata penjualan motor di Indonesia per tahun mencatat 6.5-7 juta unit.

Dengan jumlah sepeda motor sebanak 60-70 juta unit, peluang jasa perbaikan dan perawatam tentu juga besar, “kata pemilik dan pengelola Motocare, jaringan bisnis bengkel sepeda motor asal pegatot, Bandung jawa barat, Efan Medisa saat dihubungi Belum lama ini.

Menurut Efan, meski saat ini jumlah bengkel menjamur, hal itu bukan berarti ceruk pasarnya mengecil. Sebab, efan melanjutkan, kondisi kendaraan yang digunakan masyarakat saban hari juga terus berubah.

“terlebih dikota besar dengan kondisi jalanan yang macet, tingkat penurunan kondisi dan keausan componen Cepat terjadi,” ujarnya.

Pendapat serupa diungkapkan oleh Alif Ghozali, Pemilik JavaMotor, Larangan, Tanggerang, Banten. Menurut dia prospek bisnis bengkel sepeda motor masih cukup menjanjikan seiring dengan pertumbuhan kendaraan.

Bahkan, kata alif, usaha ini berpotensi menbuka jenis usaha baru bila pengelola serius mengembangkannya. Caranya, kata dia, jenis jasa yang disediakan tidak hanya perbaikan dan perawatan, tapi juga penjualan suku Cadang dan jasa lain.

“Modifikasi dan pembuatan componen lain, seperti knalpot”, tuturnya.

Untuk memulai usaha ini juga tidak membutuhkan investasi dana yang cukup besar, hanya 25-30 juta diluir sewa tempat. Dari dana tersebut, Rp. 5 Juta digunakan untuk pembelian compresor dan sisanya untuk pembelian suku cadang fase moving atau suku cadang yang paling banyak dibutuhkan.

“Pengalaman saya dalam waktu setahun sudah balik modal.” Kata dia.

Berbeda dengan alif, Efan menawarkan kemitraan melalui waralaba dengan investasi Rp. 50 Juta. Investor akan mendapatkan peralatan bengkel lengkap dan Sian beroperasi setelah mendapatkan pelatihan untuk menyamakan Standard pelayanan.

Efan memperkirakan omzet yang dibukukan bengkel jaringannya bisa mencapai Rp 40 juta perbulan, walhasil dengan keuntungan 15-20, dalam waktu satu tahun sudah kembali.

Jenis jasa bengkel lain yang cukup banyak diminati investor adalah bengkel modifikasi. Maklum, meski tak sebesar bengkel umum, consumen bengkel ini umumnya membelanjakan dana dalam jumlah yang cukup besar.

Setidaknya itulah pengakuan Sudiarto, pemilik Glory & Victory, kebon nanas, Tanggerang. Menurut Nuryanto, yang memberi layanan modifikasi bodi sepeda motor dengan menggunakan fiber, rata-rata omzet perbulan yang dibukukan mencapai Rp. 18 Juta untuk sembilan sepeda motor.

Memeras Untung Dari Bisnis Laundry

Bisnis laundry atau juga disebut bisnis binatu, kini banyak bermunculan bak cendawan dimusim hujan meski begitu, banyak yang menyakini potensi pasar jasa cuci pakaian dan setrika itu masih besar. Kuncinya tepat memilih segmen dan lokasi.

Memeras Untung Dari Bisnis Laundry

Theresia Yuni Astuti, pemilik Bunga Arum, perusahaan laundy di Tangerang, Banten misalnya “Jakarta dan sekitarnya masih menjadi lahan yang sangat besar bisnis ini,” katanya remaren.

Menurut dia, dengan jumlah penduduk tangerang dan Jakarta sekitar 11 juta jiwa atau sekitar 3.2 juta keluarga. Jasa laundry tak bakal kekurangan pelanggan. Pun bila sebuah perusahaan beroperasi hanya dilingkungan tingkat rukun warga. “rata-rata satu RW terdiri atas 100-150 keluarga,” ujarnya.

Dengan asumsi dalam sehari, disebuah keluarga minimal terdapat cucian 1 KG. Dilingkungan itu terdapat 100-150 Kg yang dikerjakan jasa laundry, itu sudah cukup menguntungkan perusahaan.

Perhitungan serupa diungkapkan Windiati Suratno, agen waralaba sebuah perusahaan laundry dikawasan ciledug tanggerang. Windi yang menjadi agen sebuah perusahaan laundry dikawasan metropolitan Land. Cikokol, tanggerang, saban hari menerima order tak kurang dari 40-50 baju, “Kami mamang hanya menerima cucian per buah,” katanya.

Dengan jumlah pesanan sebanyak itu, windi mengaku sudah bisa menutup biaya operasional meski keuntungan yang diraupnya terbilang tipis, “Bisalah untuk tamabh-tambah kebutuhan,” ucapnya.

Menurut Yuni dan Windi, pelanggan terbanyak mereka selain pasangan rumah tangga usia muda, para karyawan toko yang masih kos atau mengontrak rumah, selain itu hotel dan restaurant yang mencuci gorden, seprei, handuk, hingga taplak kerap menggunakan jasa mereka.

Menurut Styaning Haraynti, pemerhati usaha kecil dan menengah, bisnis laundry sebenarnya usaha yang tahan krisis. “apalagi di kota yang warganya sibuk,” ujarnya.

Hanya, kata dia, untuk menekuni bisnis ini juga diperlukan strategi yang tepat, kuncinya kejelian memilih target pasar, layanan dan lokasi. Bila segmen pekerja atau rumah tangga, salah satu pilihannya beroperasilah dilokasi mereka berada.

Lakukan inovasi, misalnya, ada layanan kilat dua jam atau satu hari selesai, jangan memberi diskon bila tidak ada pesaing,” katanya.

Perhitungan Bisnis Laundry

  • Investasi
    • Satu unit mesin cuci dan pengering Rp. 30 Juta
    • Dengan menyisihkan Rp. 1 Juta perbulan dari keuntungan bersih untuk pengembalian mesin cuci dan pengerin, maka modal kembali dalam 30 bulan.
  • Pemasukan
    • Sehari 50 Kg
    • Tarif Rp. 6000 Per Kg.
    • Total Sebulan Rp. 6000×50 kg x30 hari = Rp. 9 Juta
  • Pengeluaran
    • Gaji 3 Pegawai @Rp. 800 ribu= Rp. 2.5 Jt
    • Listrik, air, telepon = Rp. 900 Ribu
    • Sabun, pewangi, pelembut = Rp. 1.3 Juta
    • Brosur untuk promosi = Rp. 400 ribu
    • Sewa ruko perbulan = Rp. 500 Ribu
    • Total Pengeluaran = Rp. 5.5 Juta
  • Keuntungan
    • Rp. 9 Juta -5.5 juta = 3.5 Juta

Menikmati ‘Gurih’nya Usaha Bebek Goreng

usaha bebek goreng

usaha bebek gorengPotensi pasar usaha bebek goreng dalam bentuk warung memang masih besar meski banyak warung bertebaran. Kesempatan berusahanya pun terbuka lebar. Sebab, bisnis makanan memang tidak kenal krisis. “dibanding menú asing, sejatinya menú khas lokal jauh lebih menarik,” ujar pensihat waralaba dan lisensi Indonesia Amir Karamoy kepada detik.

Menurut dia, tren pertumbuhan bisnis makanan mengikuti perkembangan perekonomian. Walhasil, bila saat ini ekonomi tumbuh, potensi semakin besar. “Karena meningkatnya daya beli selalu di iringi dengan kenaikan konsumsi,” tuturnya.

Namur, meski potensi besar, tetap memerlukan kecermatan strategi. Sebab, selain banyak pesaing, bisnis makanan harus bisa menonjolkan promosi yang bisa memikat selera orang. “Maklum urusan makan adalah urusan selera.” Kata Iswantari Suwarman, pengamat kuliner tradisional.

Artinya kualitas cita rasa saja belum cukup, selain harus menempati lokasi yang strategis, warung makan tak terkecuali bebkek goreng harus memiliki kekhasannya.

Karena itu Iswantari melanjutkan, calon pengusaha harus banyak menggali informasi setelah itu sebaiknya menggunakan istilah yang mudah di ingat, masuk akal, serta memikat selera.

“Misalnya sambar goreng Sambal korek tribuwana Tunggadewi salah satu ratu majapahit, atau sambal khas mataram.” Ujarnya.

JAKARTA-bebek goreng dan pecel lele tidak lagi asing di telinga masyarakat. Kedai atau warungnya pun bertebaran dimana-mana. Maklum para pedagang yang menjajakkannya menyebutkan keuntungan usaha makanan tersebut cukup menggiurkan.

Lantas akankah peluang usaha ini sudah tertutup bagi mereka yang ingin memulai usaha? “sama sekali belum, karena potensi makanan ini masih terbuka lebar,” Ujar Dimar Tunggul Panuju, pemilik sekaligus pengelola jaringan waralaba warung bebek Rahminten, Lamongan, Jawa timar saat dihubungi kemaren.

Dia menyodorkan bukti, peminat waralaba restoran yang ia dirikan pada 2006 itu hingga kini terus membludak. Peminat berasal dari Madang, Surabaya dan kota besar lanilla. “Omzet mereka rata-rata per bulan Rp. 60 Juta dengan keuntungan 40-50 persen,” ujarnya.

Gurihnya keuntungan bisnis makanan ini juga diakui oleh anas subagio, pemilik warung raja bebek goreng sambal ijo di kawasan petukangan, Yakarta selatan, menurut anas, dengan banderol Rp 14-20 ribu per porsi, ia mampu mensual rata-rata 80 porsi tiap hari.

“Sehingga omzet usaha bebek gorengnya Rp. 1,25-1,6 juta. Keuntungannya ya Kira-kira 40-45 persen,” tuturnya.

Usaha Bakso – Pemain Silih berganti Pasar Tak Pernah Sepi

usaha baksoJAKARTA – Usaha bakso memang telah dikenal dimasyarakat. Tempat penjualannya pun tersebar seantero negeri ini dengan beragam wujud, mulai menggunakan gerobak keliling, gerobak sepeda atau sepeda motor, warung kaki lima, hingga restoran elite.

Meski begitu, sejumlah kalangan menilai potensi pasar bisnis bakso ini masih terbuka lebar. Setidaknya itulah keyakinan Mujiyanto, Ketua Persatuan Pedagang Mie ayam dan Bakso Jabodetabek. “Pasarnya masih sangat besar. Kalau ada (pengusaha yang tutup), itu kan wajar ada beberapa penyebab, “ tuturnya saat dihubungi kemaren.

Senada dengan Mujiyanto, Nunik Tri Wahyuni menyebutkan pasar makanan ini tidak akan jenuh seperti makanan musiman.

“Sehingga meski penjual bakso terus bertambah, bukan berarti pasarnya habis,” ujar pemilik beberapa gerai bakso di jakarta, serpong, dan cilegon itu lepada detik akhir pekan lalu.

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Hendry Mustofa. Pemilik jeringan waralaba bakso lga sapi Surabaya saat dihubungi. Menurut dia, peluang usaha gerai bakso masih menjanjikan. “bahkan banyak pengusaha bakso yang berkembang dan membuka kesempatan kemitraan,” ujarnya.

Hendí pun menyodorkan bukti usaha yang dijalankannya, sementara pada 2011 mitra usaha baru 38 unit, pada akhir tahun lalu sudah mencapai 80 unit. “rata-rata memiliki kinerja penjualan yang bagus,” tuturnya.

Kini mitra bakso lga tersebar hingga Medan, bangka, lampung, Palembang, pekanbaru, jakarta, bogor serta yogyakarta. Bahkan peminat waralaba dengan tiga pilihan investasi, yaitu paket Rp. 45 juta paket Rp. 75 Juta dan paket Rp. 95 juta itu terus mengalir.

“Beberapa permintaan untuk bermitra telah kami proses” ujarnya.

Baik Hendi Maupun Nunik mengatakan potensi pasar masih terbuka lebar karena setidaknya ada tiga alasan. Pertama, membaiknya ekonomi masyarakat sehingga selera konsumsi, terutama pemenuhan kebutuhan protein, terus meningkat. “Membaiknya ekonomi mendorong konsumsi masyarakat,” ujar Nunik.

Kedua, mengutip data dari badan pusat statistika, nunik menyebutkan tingkat konsumsi daging orang indonesia masih rendah, yaitu sekitar 7 Kg per orang setiap tahun. “padahal malaysia sudah 47-48 Kg dan singapura 61-62 Kg,” ujarnya.

Ketiga, saat ini kesadaran masyarakat mengkonsumsi daging terus tumbuh guna memenuhi kebutuhan Gizi. Sementara itu, penyajian yang paling banyak disukai adalah bakso.

Menurut nunik, penyajian makanan dari daging yang paling banyak mengundang selera adalah bakso. “Steak atau beef burger, bagi masyarakat umum, kurang menarik selain itu harganya mahal,” kata dia.

Meski begitu menurut nunik dan mujiyanto, memulai bisnis ini tidak sulit bahkan modalnya pun tak besar, dan masa kembali investasi juga relative singkat. “Tapi kualitas cita rasa, tempat yang strategis dan rajin promosi harus dijaga.” Kata Mujiyanto.

Inovasi Menjadi Kunci

Menurut nunik dan Mujiyanto, bagi pedagang usaha bakso atau apapun, inovasi menjadi kunci keberhasilan. inovasi bukan hanya strategi promosi, tapi juga dalam penyajian dan keberagaman menu. “Misalnya, bentuk bakso yang dibuat kotak, gepeng, dan sebagainya, “ujar nunik. Begitupun  dengan cita rasa. Agar menarik selera dan minat pembeli, bakso bisa dinamai dengan bakso isi jenis isian yang dibuat sendiri. Misalnya isi keju, gading giling, serbuk daging ayam, isi sayur, dan sebaginya, “Tapi dengan harga berbeda,” tuturnya.

Sedangkan Hendy Mustafa menyarankan pemilik rajin berpromosi melalui brosur yang di fotokopi dan disebar di tempat ramai. Selain itu tempat yang strategis wajib diperhatikan.

Analisis Usaha Bakso Bagi Pemula

1. Investasi

Gerobak  : Rp. 2.500.000
Sewa Tempat  : Rp. 4.000.000
Kompor dan Tabung gas  : Rp. 1.300.000
Perlengkapan Makanan  : Rp. 7.00.000
Lemari Pendingin  : Rp. 1.000.000
Total Investasi  : Rp. 9.500.000

2. Biaya Operacional

Daging 4 x 70 ribu x 30  : Rp. 8.400.000
Gaji Karyawan  : Rp. 1.000.000
Kompor dan Tabung gas  : Rp. 250.000
Total Biaya Operacional   : Rp. 9.650.000

3. Pendapatan

Bakso 50 mangkuk x 8000 x 30  : Rp. 12.000.000
Air mineral 24 x 500 x 30 (Asumsi yang minum hanya 24 orang)  : Rp. 360.000
Minuman teh dalam botol  (24 x 3000 x 30)  : Rp. 2.160.000
Kerupuk (50 x 1.000 x 30)  : Rp. 1.500.000
Total Pendapatan  : Rp. 16.020.000
Laba : Rp. 16.020.000 – Rp. 9.650.000  : Rp. 6.370.000

Bila setiap bulan menyisihkan Rp. 3 Juta untuk pengembalian investasi, dalam waktu tiga sampai empat bulan modal usaha bakso tersebut sudah kembali.