Categories : Peluang Bisnis

 

bisnis kaos anak-anakMasyarakat di tanah air kini tak asing dengan nama Dagadu atau Joger. Dua perusahaan ini dikenal sebagai produsen kaos dengan desain khas. Tulisan atau kalimat lucu yang menghiasi bagian depatn atau belakang kaos menjadi nilai jual produk keduanya.

Keduanya juga menyasar seluruh segmen pasar, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Walhasil persaingan pasar produk ini semakin ketat. Meski begitu, tak berarti pasar tertutup rapat, tapi masih ada celah. Tidak sedikit orang yang masih melirik bisnis ini.

Ary Wilas adalah satu diantaranya. Bekas jurnalis salah satu majalah wanita di Jakarta itu, sejak 2008 bertekad menekuni bisnis kaos anak-anak tersebut.
”desainnya khas dan khusus untuk anak-anak,” ujarnya kepada Detik kemarin.

Pilihan segmen itu bukan tanpa alasan. Ary menyebut sengaja membidik segmen pasar anak-anak, karena produsen kaos dengan tulisan atau kalimat unik yang menggelitik sampai saat ini masih jarang.

”karena itu, pada 2008 saya membuat label Lare-Lare, yang artinya anak-anak, sesuai dengan bisnis saya,” ucap ibu dua naka itu.

Ide berbisnis itu muncul setelah dia melahirkan anaknya yang pertama. Saking girangnya memperoleh momongan, ia berharap bisa membuat baju dan kaos buah hatinya. Dari situlah terlintas keinginan menjadikannya bisnis. Bak gayung bersambut, sang suami dosen jurusan Desain GrafisUniversitas Negeri Sebelas Maret, Solo, Ary, mendukung penuh idenya. Maka, meski dengan modal 10 juta untuk membeli mesin, alat sablon, dan bahan kaos – Ary bertekad memulai usaha pembuatan kaos uniknya.

Namun , berbeda dengan produsen lain yang memproduksi secara massal dengan desain yang ditetapkan, Ary bersama suami menggunakan strategi berbeda. Dia menawarkan layanan khusus membuat produknya. Artinya, desain dan tulisan untukkaos yang dibuanya disesuaikan dengan keinginan konsumen. ”tulisanya berisi pesan-pesan positif bagi anak-anak,” katanya.

Kalimat ”Dilarang Ngempeng”, ” Alumnus Akademi ASI ekslusif”, ” Ngomong yang baik-baik aja yuk”, dan ”peserta mata kuliah toilet training” adalah beberapa hasil karyanya. Dia mnyebut ide penulisan kalimat itu dia peroleh saat masih aktif menjadi seorang jurnalis.
Kini setelah empat tahun, bisnis Ary mulai merangkak naik. Produksinya mencapai 60-70 kaos saban hari, dengan omzet Rp. 35-50 juta per bulan.

Agar produksi terus membesar, dengan jangkauan pasar yang lebih luas, Ary menawarkan produknya melalui situs perusahaan www.lare-lare.com cara ini cukup ampuh.

Peredaran produk itu tak hanya di dalam negeri, seperti Solo, Surabaya, Aceh, Bali, Kalimantan, dan Papua tapi juga ke pasar mancanegara. Pasar luar negeri itu, antara lain, Singapura, Malaysia, Australia, dan Turki. “Pembelinya orang-orang Indonesia juga,” ucapnya.

Manisnya pasar bisnis kaos anak pun memantik minat Husni Mubarok, 31 tahun. Memang, ide berbisnis itu tak datang dengan tiba-tiba, tapi justru datang dari istrinya yang tengah hamil dan ngidam garmbar komik jepang. “dari situlah muncul ide buka usaha kaos,” ujar karyawan sebuah perusahaan minyak asal Cina itu.

Seperti halnya Ary, Husni menerapkan jurus mengusung keunikan, terutama dalam kalimat atau tulisan kaos produknya. Dia sengaja membuat tulisan yang bernapaskan Islam, seperti, “Senyum: ibadah yang paling mudah”, “shala asyiknya berjamaah”, dan “sahabatku saudaraku”.
Masih jarang ada yang menyediakan kaos-kaos muslim. Jadi kami coba-coba,” ujar Husni
Selain itu, Husni menerapkan strategi harga yang bersaing. Kaos buatannya hanya dibanderol Rp. 60-65 ribu per potong. Serangkaian jurus itu terbukti jitu. Kini usaha yang mengusung label Alesia dengan modal awal Rp. 7 juta itu telah bertumbuh. Ratusan kodi pesanan kaos diaterima sabn bulan. Pemesan seianya sat ini berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Meski begitu, ia terus berupaya memperluas pasar. Salah satu caranya dengan membuat situ perusahaaan www.kaosalesia.com. Hanya, justru Husni yang belum bisa maksimal bekerja. Maklum, dalam sebulan 20 hari ia harus berada di Jambi untuk menjalanai tugasnya sebagai karyawan perusahaan minya.
Ihwal keuntungan berbisnis kaos itu, menurut Husni ataupun Ary, lumayan. Kendati tidak menyebut besarannya. Mereka mengatakan keuntungan itu cukup untuk menopang biaya hidup sekeluarga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.